![]() |
| Foto: Eduardo Ama Petund |
Ruas jalan tersebut membentang dari Dusun Lewohele ke arah utara hingga perbatasan Desa Waitukan. Jalur ini melintasi kawasan pertanian produktif milik warga yang menjadi sumber utama penghidupan masyarakat. Di sepanjang wilayah itu terdapat lahan jagung, padi, serta tanaman perkebunan seperti mente, kemiri, dan kelapa yang selama ini menjadi komoditas andalan warga Desa Watobaya, khususnya masyarakat Dusun Lewohele.
Namun akses menuju kawasan pertanian tersebut masih menghadapi banyak kendala. Dari Dusun Lewohele hingga pertigaan ruas jalan Baya–Waitukan, kondisi jalan sebagian besar masih berupa tanah dan hanya layak dilalui pejalan kaki. Kendaraan roda dua maupun roda empat baru dapat melintas apabila lubang-lubang bekas banjir ditimbun secara sementara.
Saat musim hujan tiba, kondisi jalan semakin sulit dilalui. Tanah yang licin dan kerusakan akibat aliran air membuat aktivitas pengangkutan hasil pertanian menjadi terhambat. Warga mengaku kesulitan membawa hasil kebun ke pusat penjualan karena akses transportasi yang belum memadai.
Sebenarnya, pada tahun 2016 pernah dilakukan pelebaran jalan menggunakan alat berat. Namun pekerjaan tersebut tidak disertai pembangunan parit atau drainase yang memadai. Akibatnya, aliran banjir saat musim hujan menyebabkan erosi berat di sejumlah titik dan merusak badan jalan yang sudah dibuka.
Masyarakat Desa Watobaya, terutama warga Dusun Lewohele, berharap pembangunan jalan tani tetap menjadi prioritas pemerintah desa melalui pendanaan dana desa pada tahun-tahun mendatang. Mereka menilai akses jalan yang baik akan sangat membantu peningkatan ekonomi warga dan memperlancar distribusi hasil pertanian. (teks: Simpet Soge)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar