![]() |
| Foto: Ama Sinu |
Watobaya – Para petani di Desa Watobaya mulai merasakan tambahan pendapatan dari penjualan tempurung kelapa yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah. Dengan meningkatnya permintaan dari para pengepul, tempurung kelapa kini memiliki nilai ekonomi yang cukup menjanjikan dengan harga mencapai Rp3.500 per kilogram.
Aktivitas pengumpulan tempurung kelapa terlihat di sejumlah titik di desa. Setelah dagingkelapa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga maupun komoditi kopra, tempurung yang tersisa dikumpulkan, dikeringkan, lalu dijual kepada pengepul yang datang ke desa. Tempurung tersebut selanjutnya dipasarkan untuk berbagai kebutuhan industri, termasuk bahan baku arang dan produk olahan lainnya.
Salah seorang petani mengungkapkan bahwa penjualan tempurung kelapa memberikan tambahan penghasilan yang cukup berarti bagi keluarga. Jika sebelumnya tempurung hanya dibakar atau dibuang begitu saja, kini masyarakat mulai menyadari bahwa bagian tersebut memiliki nilai jual.
“Dulu tempurung kelapa sering menjadi sampah atau hanya digunakan sebagai bahan bakar dapur. Sekarang sudah ada pembeli yang datang langsung ke desa, sehingga kami bisa memperoleh tambahan pendapatan,” ujarnya.
Meningkatnya harga tempurung kelapa juga mendorong warga untuk lebih teliti dalam mengumpulkan dan menyimpan hasil sampingan tersebut. Selain membantu menambah penghasilan, pemanfaatan tempurung kelapa dinilai turut mengurangi limbah dan mendukung pengelolaan sumber daya yang lebih baik.
Para pengepul yang membeli tempurung dari petani biasanya menetapkan standar tertentu, seperti kondisi tempurung yang kering dan bebas dari kotoran. Karena itu, petani berupaya menjaga kualitas hasil yang dijual agar memperoleh harga yang sesuai.
Pemerintah desa menyambut positif berkembangnya usaha pengumpulan tempurung kelapa di tengah masyarakat. Komoditas tersebut dinilai memiliki potensi ekonomi yang dapat mendukung kesejahteraan warga, terutama bagi keluarga petani yang selama ini bergantung pada hasil pertanian dan perkebunan.
Selain memberikan manfaat ekonomi, usaha ini juga membuka peluang pengembangan industri rumah tangga berbasis kelapa. Dengan ketersediaan bahan baku yang cukup melimpah, masyarakat diharapkan dapat mengembangkan berbagai produk turunan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Masyarakat berharap permintaan terhadap tempurung kelapa terus meningkat sehingga harga tetap stabil dan memberikan keuntungan yang layak bagi petani. Dengan semakin luasnya pasar untuk produk berbahan dasar tempurung kelapa, komoditas yang dahulu dianggap tidak bernilai kini menjadi salah satu sumber pendapatan tambahan yang membantu memperkuat ekonomi keluarga di Desa Watobaya.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan hasil sampingan pertanian secara kreatif dapat membuka peluang usaha baru dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat pedesaan. Dengan dukungan pasar dan pengelolaan yang baik, tempurung kelapa berpotensi menjadi komoditas yang semakin penting bagi perekonomian warga Watobaya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar